Soal Asli TKA Bahasa Indonesia SMA/MA/SMK Sederajat Tahun 2025

Bahasa Indonesia Wajibb
SMA/MA/SMK/Sederajat Tahun 2025
| Nama Peserta | : | |
| Tanggal Test | : | |
| Jumlah Soal | : | |
| Waktu | : | 120 menit |
| Sisa Waktu | : |
Tradisi buwuhan merupakan bagian dari budaya masyarakat Jawa, khususnya di kota-kota besar seperti Surabaya. Tradisi ini dilakukan ketika ada acara penting seperti pernikahan atau khitanan yang diadakan di daerah tersebut. Buwuhan merujuk pada kegiatan memberi bantuan, baik berupa barang, uang, maupun tenaga kepada seseorang yang sedang mengadakan hajatan, atau bisa juga disebut sebagai kegiatan menyumbang. Tradisi ini mencerminkan nilai gotong royong dan solidaritas sosial karena keluarga dan tetangga saling bahu-membahu dalam membantu sesama.
Namun, praktik buwuhan tidak lepas dari unsur pertukaran atau dipandang sebagai utang. Masyarakat meyakini bahwa segala bentuk bantuan yang diberikan akan kembali dalam bentuk yang setara ketika si pemberi mengadakan hajatan serupa. Hal ini menyebabkan buwuhan tidak lagi dipandang murni sebagai hibah atau sedekah, tetapi sebagai bentuk "utang tidak tertulis" yang menimbulkan kewajiban moral untuk membalas.
Dalam praktiknya, buwuhan memang meringankan beban tuan rumah, tetapi dapat menimbulkan tekanan psikologis bagi penerima bantuan. Rasa malu dan kekhawatiran kehilangan harga diri mendorong sebagian orang untuk berutang demi mengembalikan buwuhan. Hal ini menyebabkan terbaginya cara pandang terhadap buwuhan. Ada yang melihatnya sebagai bentuk tolong-menolong, tetapi ada juga yang justru menganggapnya menjadi sistem utang piutang berbasis sosial. Sebagian pihak berpendapat bahwa buwuhan adalah hibah karena tujuannya adalah untuk membantu. Namun, apabila ada keharusan pengembalian, maka secara hukum dan etika, buwuhan telah bergeser dari semangat gotong royong menjadi sebuah kewajiban ekonomi yang membebani. Oleh karena itu, pemahaman masyarakat terhadap tradisi buwuhan perlu diluruskan agar nilai luhur tolong-menolong tetap terjaga tanpa menimbulkan beban yang tidak perlu.
Sumber: Rachmawati, S. A., dan Anwar, M. K. (2021). Budaya dan Tradisi Buwuhan sebagai Utang Piutang dalam Adat Pernikahan di Kota Surabaya. Jurnal Ekonomika dan Bisnis Islam, 4(3), hl 69–83.Kalimat tersebut dapat menjadi kesimpulan yang sesuai teks argumentasi tersebut karena ...
"Jangan-jangan..."
"Tidak ... Aku tidak boleh berpikiran buruk. Bapak pasti pulang dengan selamat. Aku akan tetap menunggunya di sini sambil berdoa."
Layur masih ingat masa-masa dulu, ketika Bapak berlayar pada malam hari dan keesokan harinya sudah merapat kembali di pantai dengan membawa ikan berlimpah. "Ayo! Siapa mau udang?" panggil Bapak. Layur berlari kencang bersama teman-temannya. Namun, itu adalah kenangan sepuluh tahun silam. Kini, udang dan ikan kecil adalah anugerah besar. Itu pun harus dijaring di tengah laut.
Layur ingat betul, Bapak adalah pembuat bondet paling disegani, juga berpengaruh di dusun. Setiap hari, nelayan silih berganti datang ke rumah memesan bondet. Hasil panen ikan berlimpah. Tinggal melemparkan bondet ke dalam laut dan ... bum! Berkuintal-kuintal ikan terapung tinggal diserok menggunakan jaring.
Sampai suatu ketika...
DUAAAR!
Separuh rumah Layur luluh lantak karena simpanan bondet di gudang meledak. Ledakan bondet di gudang tak hanya merusak rumah tetapi juga mencelakai anak semata wayang. Ia berteriak minta tolong, menepuk-nepuk dadanya, dan menangis. Itulah titik balik yang amat disesali Bapak. Sejak itu, Bapak meninggalkan usaha pembuatan bondet. Demikian pula dengan warga Dusun Prau tempat mereka berdiam berangsur-angsur meninggalkan cara menangkap ikan dengan bondet.
Lamat-lamat terlihat kibaran layar bercorak biru. Layur beringsut menuruni perahu tempatnya duduk. Lambaian tangan bapaknya semakin jelas dan semakin dekat.
"Bapak dari mana? Bapak sudah tiga hari telat pulang!" Seru Layur kesal. Matanya berkaca-kaca, menahan rindu, dan cemas.
(Karya Anang YB)
Daftar Istilah:
Bondet: istilah lokal yang merujuk pada bahan peledak rakitan, sering disebut juga bom ikan.
Sumber: https://buku.kemdikbud.go.id/katalog/layur-tetaplah-berlayar (dengan pengubahan)

Suatu sore, Pak Wayan, seorang nelayan tua yang sudah puluhan tahun melaut, sedang membersihkan jaringnya di tepi pantai. Di sampingnya, sekelompok turis muda asyik berpose untuk berfoto. Mereka mengenakan topi pantai yang modis, kacamata hitam, dan membawa botol minum berwarna-warni. "Wah, pantainya bersih banget ya, guys!" seru salah satu turis sambil memegang ponselnya. "Pas banget buat konten 'liburan ramah lingkungan'!" Temannya menimpali, "Iya! Nanti caption-nya 'Menikmati keindahan alam tanpa jejak, menjaga bumi kita tercinta!'"
Setelah puas berfoto dari berbagai sudut dengan beragam filter, mereka beranjak pergi. Namun mereka meninggalkan botol minuman plastik kosong, bungkus keripik, dan beberapa puntung rokok yang disembunyikan di balik semak-semak. Mereka bahkan tidak berusaha mencari tempat sampah yang hanya berjarak beberapa meter.
Pak Wayan hanya bisa menggelengkan kepala. Ia berjalan mendekat dan memungut sampah-sampah itu satu per satu. Ia sudah terbiasa dengan pemandangan ini. Para turis datang untuk menikmati keindahan, berfoto, membuat konten, lalu pergi meninggalkan "kenangan" dalam bentuk sampah.
Tak lama kemudian, seorang petugas kebersihan berseragam oranye datang dengan sapu dan karung. "Pak Wayan, sudah banyak lagi ya sampahnya?" tanyanya sambil menghela napas.
"Sudah biasa, Nak," jawab Pak Wayan. "Ini namanya 'sampah estetik'. Cuma bagus di foto, tapi busuk di mata dan bau di hidung."
Petugas itu tersenyum masam. "Iya, Pak. Kata mereka peduli lingkungan, tapi pedulinya cuma di caption media sosial."
Malam harinya, di akun media sosial Pak Wayan—yang diajari cucunya—ia melihat foto-foto pantai yang diunggah para turis tadi. Pantai tampak bersih sempurna, dihiasi filter matahari terbenam yang memukau. Ia membaca caption-nya: "Surgaku, jangan kau kotori!"
Pak Wayan hanya bisa tersenyum getir. Sepertinya, slogan "Pantai Bersih Tanpa Sampah" itu hanya berlaku untuk kamera dan media sosial. Sementara di balik layar, jejak yang ditinggalkan justru lebih nyata dan memprihatinkan daripada gambar yang dipamerkan.
Salah satu faktor penyebab dari permasalahan tersebut adalah dengan pertambahan jumlah penduduk akan terjadi peningkatan aktivitas manusia dan daya konsumsi yang melonjak. Hal itu menyebabkan meningkatnya jumlah dan jenis limbah sehingga menyebabkan lingkungan menjadi tercemar. Selain sampah, penebangan pohon secara liar sampai pada kebakaran hutan menjadi penyumbang terbesar dalam kerusakan ekosistem. Banyak aktivitas manusia yang mengancam pelestarian lingkungan sehingga menyebabkan ketidakseimbangan ekosistem. Manusia punya peran besar dalam menjaga keseimbangan ekosistem, bukan cuma untuk sekarang, tapi juga untuk generasi mendatang. Tanggung jawab dalam menjaga lingkungan, tentunya bukan hanya dibebankan oleh pemerintah saja, tetapi seluruh elemen masyarakat harus bahu-membahu dalam menjaga dan melestarikan lingkungan.
Bertepatan dengan peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia, yang tidak hanya sebagai seremonial belaka, tentunya menjadi sebuah harapan dalam meningkatkan kesadaran menjaga dan melestarikan lingkungan. Selain itu, memberikan semangat baru bagi kita semua untuk komitmen menjaga lingkungan. Dengan memulai dari diri sendiri dan hal paling kecil, yaitu tidak membuang sampah sembarangan, terutama sampah plastik karena merusak ekosistem laut, tidak menebang pohon dengan liar hingga membuat gundul hutan. Mari bersama merobohkan jurang ekologi, memulihkan ekosistem bumi dengan pendekatan pengelolaan sumber daya alam yang adil dan berkelanjutan.
Sumber: https://uiad.ac.id/2021/06/06/opini-pulihkan-ekosistem-menjaga-planet-kita-dari-generasi-ke-generasi/ (dengan pengubahan)
Tentukan apakah setiap pernyataan berikut Benar atau Salah sesuai isi teks.
Kenaikan harga energi dan pangan tetap menjadi pendorong utama inflasi di banyak negara, dipicu oleh gangguan rantai pasok global dan konflik di Ukraina, memaksa bank sentral untuk mempertahankan kebijakan moneter yang ketat. Upaya ini, meskipun esensial untuk mengendalikan kenaikan harga, berpotensi mengerem pertumbuhan ekonomi. Para pengambil kebijakan dihadapkan pada dilema sulit: menyeimbangkan kebutuhan untuk meredam inflasi tanpa memicu resesi yang dalam.
"Kami melihat adanya perlambatan pertumbuhan global yang signifikan di tahun ini, dan risiko resesi menjadi lebih nyata jika bank sentral terlalu agresif dalam menaikkan suku bunga," ujar seorang ekonom senior dari Bank Dunia, dalam sebuah webinar yang diadakan, (Rabu, 11/6).
Di sisi lain, sektor manufaktur global menunjukkan tanda-tanda perlambatan, tercermin dari menurunnya indeks manajer pembelian (PMI) di beberapa ekonomi besar seperti Jerman dan Jepang. Penurunan permintaan ekspor dan gangguan rantai pasok masih menjadi perhatian utama bagi produsen. Namun, sektor jasa justru menunjukkan resiliensi yang lebih kuat, didukung oleh kembali normalnya aktivitas setelah pandemi, sebuah tren yang mulai terlihat sejak awal Desember 2024.
Pasar tenaga kerja di beberapa negara maju masih relatif ketat, dengan tingkat pengangguran yang rendah. Kondisi ini memberikan dukungan terhadap daya beli konsumen, meskipun tekanan biaya hidup yang tinggi dapat mengikis dampaknya. Sementara itu, investasi langsung asing (FDI) cenderung melambat, mencerminkan kehati-hatian investor di tengah prospek ekonomi yang tidak menentu.
Ke depan, koordinasi kebijakan ekonomi antarnegara akan menjadi kunci untuk menstabilkan kondisi global. Reformasi struktural yang bertujuan meningkatkan produktivitas dan daya saing juga dianggap krusial untuk memastikan pertumbuhan yang berkelanjutan dalam jangka panjang. Para ekonom memprediksi bahwa prospek ekonomi akan sangat bergantung pada evolusi inflasi, respons kebijakan moneter, dan perkembangan situasi geopolitik di seluruh dunia. Bagi Indonesia, kondisi ini menuntut kewaspadaan dan diversifikasi ekonomi agar tidak terlalu rentan terhadap gejolak global dalam kurun waktu tiga hingga enam bulan ke depan, terhitung sejak (16/6/2025).
Sumber: Disadur dan diadaptasi dari rilis pers dan laporan Global Economic Prospects, Juni 2025 oleh World Bank (Bank Dunia).
Pertama, Tari Hudoq adalah cerminan dari kearifan lokal yang mengajarkan nilai-nilai fundamental. Tarian ini merupakan bagian integral dari ritual keagamaan untuk menjalin hubungan harmonis dengan roh penjaga pertanian, Halaeng Heboung, dan roh pelindung umat manusia, Selo Sen. Dalam era modern yang sering kali mengabaikan hubungan manusia dengan alam, tarian ini berfungsi sebagai pengingat kuat akan ketergantungan kita pada alam dan pentingnya menghormati kekuatan yang lebih besar dari diri kita.
Kedua, setiap elemen dalam Tari Hudoq mengandung simbolisme yang mendalam dan relevan. Penggunaan topeng kayu yang besar dan dedaunan yang menutupi tubuh penari bukan sekadar properti, melainkan representasi kekuatan dan perlindungan dari roh-roh tersebut. Gerakan tari yang menggambarkan keteguhan petani serta nyanyian tradisional yang mengiringinya adalah permohonan tulus kepada alam semesta untuk memberikan keseimbangan dan kesuksesan panen. Menghilangkan tarian ini berarti menghilangkan simbolisme penting yang telah diwariskan turun temurun, yang merupakan esensi dari budaya Dayak Modang itu sendiri.
Ketiga, Tari Hudoq memiliki nilai edukatif yang tinggi bagi masyarakat luas, termasuk wisatawan. Pertunjukan ini tidak hanya memukau secara visual, tetapi juga memberikan pemahaman tentang pentingnya keseimbangan alam dan hubungan spiritual yang mendalam. Dengan melestarikan dan memperkenalkan tarian ini kepada publik yang lebih luas, kita tidak hanya menjaga keberadaan tarian itu sendiri, tetapi juga menyebarkan pesan tentang pentingnya menjaga lingkungan dan menghargai nilai-nilai tradisional.
Dengan demikian, jelaslah bahwa Tari Hudoq bukan sekadar pertunjukan, melainkan sebuah jembatan spiritual yang menghubungkan manusia dengan alam dan leluhur. Mengabaikan pelestariannya sama saja dengan mengabaikan kekayaan spiritual dan kearifian lokal yang menjadi fondasi budaya kita. Pelestarian Tari Hudoq adalah investasi untuk masa depan, memastikan bahwa nilai-nilai berharga ini tetap hidup dan relevan bagi generasi mendatang.
Sumber:
https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/ditwdb/hudoq/ (dengan penyesuaian)
https://pustakaborneo.id/artikel/hudoq-tradisi-tari-sakral-suku-dayak-di-kalimantan (dengan penyesuaian)
https://1001indonesia.net/hudoq-tarian-sakral-dari-suku-dayak/ (dengan penyesuaian)
https://www.timesnusantara.com/2024/12/08/tari-hudoq-tarian-spiritual-yang-menghubungkan-manusia-dengan-alam/ (dengan penyesuaian)
Belis memiliki makna yang mendalam dan dianggap sebagai bentuk pengakuan atas peran penting seorang perempuan di dalam keluarga. Belis merupakan representasi keseriusan dan komitmen seorang pria untuk membangun keluarga. Proses penyerahan belis tidak hanya dimaknai sebagai pertukaran materi, tetapi juga sebagai simbol penyatuan dua komunitas besar, yakni keluarga kedua belah pihak. Pada masyarakat Lamaholot misalnya, belis diwujudkan dalam bentuk gading gajah atau bala, yang besarnya disesuaikan dengan status sosial seorang perempuan. Selain itu, disertakan juga pelengkap belis seperti sarung tenun sutra dan ternak. Uniknya, meskipun belis dari pihak laki laki, pihak keluarga perempuan memberikan balasan simbolis kepada pihak laki-laki dalam bentuk barang berharga lainnya. Tradisi ini mengajarkan keseimbangan dan saling menghargai di antara kedua belah pihak.
Meskipun belis mengandung nilai-nilai yang positif, tantangannya saat ini adalah menjaga agar tradisi tersebut tidak menjadi beban finansial yang berat. Tuntutan belis yang tinggi sering kali menjadi sumber tekanan, terutama bagi keluarga laki-laki. Dalam beberapa kasus, perkara belis dapat berimbas pada kesehatan mental hingga memicu tindakan tragis, seperti yang pernah terjadi di Kupang. Selain menjadi tantangan finansial, besarnya tuntutan materi untuk belis juga sering kali menimbulkan ketegangan dan konflik di antara pasangan dan keluarganya. Ketika keluarga perempuan menetapkan nominal belis yang tinggi, tidak jarang hal ini membangkitkan sentimen negatif dari pihak laki-laki yang merasa tertekan dan kehilangan martabat jika tidak mampu memenuhinya. Alhasil, penundaan pernikahan diambil guna memenuhi permintaan belis. Konflik semacam ini bisa merusak hubungan dua keluarga yang harusnya harmonis.
Sumber:
https://beritakini.co.id/detail/36671/tradisi-belis-simbol-budaya-yang-menyimpan-beban-finansial-di-era-modern
https://www.krajan.id/belis-dalam-pernikahan-adat-ntt-simbol-budaya-atau-beban-sosial/#google_vignette
Kalimat tersebut dapat menjadi kesimpulan yang sesuai teks argumentasi tersebut karena ...
Penggunaan telepon genggam menjadi kebutuhan pokok di era digital. Mayoritas masyarakat saat ini sudah menggunakan telepon genggam. Kemudahan akses informasi dan komunikasi yang diperoleh dari penggunaan telepon genggam memberikan manfaat sekaligus dampak yang masif terhadap interaksi sosial di tengah masyarakat. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), proporsi Individu yang memiliki telepon genggam menurut kelompok umur didominasi oleh orang-orang dengan rentang usia 15-24. Artinya, masyarakat kelahiran tahun 2000 termasuk individu yang mendominasi pemilik dan pengguna telepon genggam. Individu pada rentang usia tersebut tergolong dalam generasi Z (gen-Z) yang lahir dan tumbuh pada era internet dan telepon genggam.
Perubahan cara komunikasi dari tatap muka ke virtual seiring dengan berkembangnya telepon genggam menjadi ponsel pintar mengubah pola interaksi sosial. Dibanding ruang fisik, gen-z lebih menyukai interaksi pada ruang virtual. Hal itu mengurangi kualitas interaksi sosial secara langsung. Dalam satu ruang yang sama, mereka bisa lebih fokus pada interaksi virtual melalui ponsel pintar daripada berkomunikasi langsung dengan orang-orang di sekitarnya. Perubahan pola interaksi sosial tersebut merupakan tantangan di era perkembangan teknologi.
Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan tahun 2020, sebagian besar informan menyatakan bahwa terdapat faktor eksternal dan internal yang menjadi pemicu terjadinya pergeseran pola interaksi dalam masyarakat. Pertama, faktor eksternal dari alat-alat canggih seperti ponsel pintar yang mampu menghubungkan komunikasi tanpa melalui tatap muka. Kedua, faktor internal berupa ketergantungan ponsel pintar dan perilaku phubbing.
Pergeseran pola interaksi sosial membuat nilai-nilai budaya seperti tenggang rasa, sopan santun, empati, dan kepedulian sosial menurun. Ungkapan "mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat" pada era digital merupakan suatu realitas yang dapat menjadi bahan refleksi untuk semua orang.
Adanya pergeseran pola interaksi sosial secara khusus menuntut orang tua memberikan pemahaman yang lebih pada anaknya agar tetap mempertahankan nilai budaya. Ponsel pintar terus berkembang setiap tahun dengan fitur-fitur yang menawarkan kepraktisan tanpa disadari akan mengontrol penggunanya untuk mengabaikan interaksi sosial secara langsung. Oleh karena itu, perlu kesadaran bersama untuk memanfaatkan ponsel pintar secara bijak tanpa mengabaikan interaksi sosial dalam ruang fisik. Upaya tersebut merupakan langkah nyata untuk melestarikan nilai-nilai budaya dan menjaga hubungan sosial.
Referensi: Artikel ilmiah "Pergeseran Pola Interaksi Sosial" oleh Iva St Syahrah, dkk dan data BPS dari artikel Gen Z Mendominasi Pengguna Handphone Indonesia dalam https://data.goodstats.id/
Kalimat tersebut dapat menjadi kesimpulan yang sesuai dari teks tersebut karena ...
Kami kembali berjalan pulang. Kondisiku sudah sepenuhnya normal. Tetua melangkah di depanku. Tak kusangka, dalam keadaan kritis ternyata kami telah sangat jauh memasuki belantara. Aku memperhatikan pohon-pohon besar yang kami lewati. Sinar matahari bahkan hampir tak bisa menembus ke bawah.
Aku merasa asing di tempat ini. Pohon-pohon yang berlumut itu, sulur-sulur yang bergantungkan, semak-semak yang rimbun itu. Oh... ternyata belantara ini adalah tempat menakjubkan. Bayangkan, di lumut batang pohon itu udang-udang kecil berloncatan lincah. Belum pernah aku melihat udang hidup di batang pohon!
"Kau tahu anak muda, tempat ini merasa terancam dengan keberadaan..." tetua menghentikan langkahnya dan mengambil sesuatu dalam butah. "Roh Meratus meniupkan wisa ke tubuh kalian, sayang kawan-kawanmu yang lain terlambat," sambungnya kemudian melemparkan gulungan kertas yang diambil dari butah. Sigap kutangkap gulungan itu.
"Itu peta yang kuambil dari ranselmu. Ternyata kalian memasang patok-patok dan memberi tanda pohon-pohon besar untuk ditebang. Dan perlu kau ketahui anak muda, tempat ini juga termasuk wilayah yang akan kalian pasangi patok-patok itu," katanya dingin.
Perlahan kubuka gulungan peta di tanganku. Dari peta terlihat jelas, pekerjaan kami tinggal sedikit lagi. Jika saja semuanya lancar, maka kami akan sampai di tempat ini dan selesailah kontrak kerja kami. Dalam waktu singkat, mungkin alat-alat berat akan didatangkan! Pohon-pohon ini, sulur- sulur ini, lumut-lumut ini, udang-udang ini...akan bagaimana?
"Tetua, izinkan aku tinggal di sini dan bersama kaummu menjaga tempat ini..." Akhirnya setelah lama hanya diam, aku menatap mata tetua mantap.
(Cerpen karya Zaidinoor)
Glosarium
Butah: wadah atau tempat yang digunakan untuk membawa sesuatu, biasanya terbuat dari anyaman rotan atau bambu Wisa: bisa atau racun
Tentukan apakah setiap pernyataan berikut Benar atau Salah.